Skip to content

Anak yang Terlantar

Apakah blog bisa disebut “anak-anak yang dilahirkan” oleh penulisnya?

Kalau iya, alangkah malangnya saya sebagai orang tua, telah menelantarkan “anak” untuk sekian lama, tanpa memberinya bekal untuk kehidupannya sendiri. “Tulisan adalah anak-anak bagi penulisnya.” begitu konon dikatakan. “Anak itu akan berkembang ketika orang tua senantiasa merawatnya agar selalu tumbuh.”

Ah…

Pengetahuan Akan Partai

Tiga hari lalu, saya terpesona oleh lautan manusia ketika akan berangkat ke kantor. Rupanya, gedung di pinggir tempat kos saya sedang mengadakan acara partai. Ratusan orang –yang rata-rata berbusana muslim– memadati parkir Jatim Expo, Surabaya. Puluhan bus berjajar, mengingatkan saya pada saat mudik bareng menjelang Lebaran. “Betapa meriahnya,” kagum saya melihat kibaran bendera partai di mana-mana. Saya pun teringat Bu Lek saya yang menjadi caleg lewat partai ini.

“Apakah mereka itu para caleg?” saya bertanya-tanya. Pertanyaan ini memang belum terjawab sampai sekarang. Andai iya, maka Bu Lek saya pasti ada di tengah-tengah mereka.

Partai Islam, nasionalis, mengusung falsafah Nahdlatul Ulama. Tentu merupakan pilihan alternatif, menurut saya, dari pada partai hijau serupa yang sedang dilanda konflik.

Yang menarik, seperti dalam kalender yang diberikan bu Lek saya, partai ini telah direstui banyak kiai. Bahkan pendirinya merupakan kiai-kiai terkenal yang memiliki reputasi di Nahdlatul Ulama. Apakah ini tidak memikat bagai para pengikut NU?

Bagi saya sendiri, partai ini memang menarik: Islamis, nasionalis, mengusung falsafah Nahdlatul Ulama, dan didirikan ulama.

Namun, cukupkah empat pemikat itu bisa menarik para pemilih untuk mendukungnya? Tentu saja tergantung si pemilih itu sendiri: pengetahuan akan partai. Bagi mereka yang sudah terlanjur kecewa pada partai NU yang dulu dipilihnya, partai ini mungkin bisa menjadi alternatif.

Saya sendiri tidak banyak tahu partai ini kecuali empat hal di atas.

Akhirnya, pengetahuan saya tentang partai ini nambah lagi. Tadi pagi, ketika jalan-jalan di lapangan parkir, banyak sekali sampah makanan berlogo partai ini. Tidak itu saja, rupanya puluhan bus yang parkir juga menyisakan kerusakan parah: paving ambles.

Pengetahuan saya tentang partai nambah lagi.

Setelah Kompas, kemudian Bisnis Indonesia

“Bukan salah cetak.” Begitulah bunyi iklan di Bisnis Indonesia halaman pertama Sabtu (3/1) kemarin. “Nantikan wajah baru kami mulai edisi 5 Jan 09.”

Bisnis Indonesia akan mengikuti Kompas –dan otomatis juga koran yang telah “kecil”– ?

Mungkin. Melihat dari iklan yang ditayangkan meninggi di sebelah kanan –sehingga menghabiskan satu kolom– besar kemungkinan Bisnis Indonesia akan memperkecil ukuran koran. Kalau benar, jumlah kolom yang semula delapan akan berubah menjadi tujuh. Sebuah langkah cepat, saya kira, setelah mengetahui perubahan Kompas.

Bisnis Indonesia, yang memiliki khas “tidak banyak tingkah” dalam perwajahan, mungkin akan banyak berbeda dari desain yang sebelumnya. Saya sendiri tidak begitu ngerti, apakah orang bisnis cendrung tidak suka visual yang bagus atau apa, koran yang mengusung slogan Referensi Bisnis Terpercaya ini cenderung suka simple: foto lepas kotak di sela-sela berita, garis, dan grafis tabel. Nah, apakah desain yang baru tetap mempertahankan konsep seperti ini? Kita lihat saja nanti.

Bisnis Indonesia memang bukanlah koran yang bagus dari segi visual, menurut saya. Dibanding dengan Koran Tempo dan Kompas, Bisnis Indonesia ternyata memiliki kedekatan pembaca yang khas dari pada desain visual: bisnis. Bagi kalangan pengusaha, berita ini merupakan unsur penting untuk memajukan bidang usaha. Lihat saja halaman Data Bursa, Keuangan & Berjangka, orang-orang seperti saya pasti tidak akan meliriknya. Selain tidak ada ilustrasi menarik, yang tersedia hanya deretan angka.

Apakah perwajahan yang simple khas-orang-bisnis itu akan berubah menjadi lebih “menghibur mata”?

Kita lihat saja nanti.

2009, Kompas Mengecil

kompas baru2009 mungkin merupakan babak baru perwajahan Kompas, koran nasional yang begitu berpengaruh. Yakni mengalami pengecilan ukuran yang semula besar –karena ada yang kecil, sebagai pembanding– menjadi lebih “handy”. Bagi yang belum membaca pemberitahuan (apakah memang ada pemberitahuan sebelumnya?) pasti agak sedikit kaget dengan perubahan ukuran itu. Saya yang mencoba memegang koran tanggal 2/1 kemarin, merasakan “perubahan suasana” karena pengecilan bentuk itu. (Tanggal 1/1 koran libur?)

Meski tidak ada yang berubah dari sisi desain (perwajahan), agaknya perlu menghitung kembali berapa kolom yang ada pada koran itu? “Apakah ngeprint-nya memang diperkecil, ataukah desain memang seukuran itu?” tanya saya dalam hati. Perubahan ukuran, ternyata tidak mengalami perubahan kolom sehingga melihat iklan baris menjadi sedikit terasa janggal. Memang serasa di-print kecil saja.

Dari sisi pembaca, mungkin perubahan ukuran tidaklah membawa pengaruh. Para pembaca bisa beradaptasi. Satu-dua-hari yang tidak suka akan ngomel, lalu terdiam saja, sambil membaca berita-berita yang disajikan. Yang suka ukuran baru, mereka akan memuji perubahan Kompas yang dirasa makin pas. Nah, sedangkan bagi pengiklan, perubahan ini tentu akan memberi pengaruh — ukuran yang makin menyempit, apakah juga diikuti harga yang selangit.

“Isu” perubahan ukuran Kompas ini sebenarnya sudah saya dengar sebelumnya. Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah ukuran yang mengecil itu juga bersamaan dengan perwajahan? Ternyata tidak. Sebagai orang yang bekerja pada koran berwajah kecil, orang di kantor saya bisa berkata dengan bangga: Others Can Only Follow.

Namun, siapa yang mengikuti dan diikuti bukanlah soal penting. Kompas, saya rasa juga perlu penyesuaian. Dengan sedikit memperkecil ukuran, hal itu akan bepengaruh terhadap pembelian kertas yang konon harganya semakin “tidak rasional”. Sementara persaingan dalam industri kertas sendiri juga sangat ketat.

Perubahan Kompas memang rasional di kala ekonomi 2009 yang semakin tidak menguntungkan untuk sebuah industri koran cetak. Bagaimana menurut Anda?