Skip to content

Sebuah Perjalanan

10 Agustus, 05.00
Suasana masih gelap. Kakiku melangkah cepat. Membuntuti seseorang yang tidak kukenal. Di atas jembatan penyeberangan itu, ku lihat rembulan bewarna kekuningan bulat sempurna di arah barat. Bergerak mengikuti arah langkahku. Sementara di bawahku, lalu lalang mobil tidak beraturan dari arah utara dan selatan.

Setelah melewati jembatan penyeberangan itu, saya segera merogoh kantong —menyiapkan uang recehan. Cukup Rp 200 saja. Melewati peron memang tidak mahal. Tetapi penghasilannya mungkin bisa dibilang lumayan. Karena uang kecil itu masih dikalikan dengan jumlah orang yang melewati. Tinggal dikalikan saja, kalau sehari ada 1000 pelewat, maka sudah terkumpul Rp 200.000. Itu baru sehari. Berapa kalau sebulan?

Tanpa berhenti sama sekali, saya langsung melenggang bebas. Ah, para penjaga itu… seolah hanya robot saja, pikirku. Kala koin sudah dimasukkan, mereka akan tenang. Sementara jika saya tidak mempunyai koin, tentu akan berbuntut masalah. Dengan mata masih memerah, ia melihat recehan-recehan itu. Ini bedanya dengan robot sungguhan. Robot kali ini masih bisa tidur atau terkantuk-kantuk. Maklum hari masih gelap.

Melewati pintu keluar, sebuah bus jurusan entah berhenti begitu saja di mulut pintu. Mereka memanti-nanti penumpang terakhir di terminal yang mau menggunakan jasanya. Sementara kakiku masih melangkah menuju terminal bus kota.

Aneh. Kala menuju tempat pemberhentian bus. Suasana tampak sangat sepi. Padahal biasanya jam segini suasana terminal sudah terlihat ramai oleh penumpang dan deru bus. Saya pun mencoba meyakinkan pemandangan di depanku. “Ada apakah?” batinku bertanya-tanya. Semakin mendekat semakin jelas, bahwa memang keadaan kala itu benar-benar lain. Beberapa calon penumpang tampak bergerombol di sisi barat sambil membawa tas berukuran besar. Sementara bus-bus itu masih tetap diam dengan pintu-pintu yang tertutup rapat.

Ojek mas,” tawar seseorang yang melintas. “Lagi ono demo. Gak onok angkutan,” katanya menjelaskan. Maksudnya ada demonstrasi awak bus, sehingga tidak ada angkutan yang bisa ditumpangi. “Arep nang ndi?” tanyanya lagi. Saya tidak menanggapi tawarannya karena dari awal memang tidak berminat. Dia kemudian beranjak, beralih kepada orang lain.

Saya berdiri mematung. Lama. Melihat para calo penumpang ‘memperdayai’ objeknya. Bagaimana tidak, tawaran ke Perak saja tarifnya sampai Rp 100 ribu! Saya pun berpikir untuk kembali, mengurungkan niat untuk pulang ke kampung halaman.

Selang beberapa menit, kakiku melangkah ke arah pintu keluar. Rupanya di sana, para calon penumpang juga berjubel, menanti kedatangan bus. Kebanyakan membawa tas-tas besar. Berbagai tujuan. Satu per satu mereka naik bus sesuai jurusannya… Sementara saya masih saja mengamati satu per satu jurusan bus-bus itu.

Saya berniat naik bus jurusan Semarang. Saya kira ia akan melewati Babat. Dan saya bisa turun di sana. Namun sedari tadi, tampaknya bus itu tidak terlihat. Ah, kembali ke kos-kosan? Itulah mungkin jalan satu-satunya. Saya segera beranjak.

Belum benar-benar beranjak, bus jurusan Semarang pun datang. Saya melompat masuk. Duduk manis di antara para penumpang bus yang belum penuh. Aman.. pikirku. Dari bus itu, nanti saya bisa turun sampai Babat. Sebuah pengalaman pertama yang sangat sempurna…

11 Agustus, 14.10, waktu kembali
Tanda tanyaku terjawab. Ternyata demo kemarin masih berlangsung hingga kini. Inilah yang saya khawatirkan. Karena akan sulit untuk mencapai tujuan.

Setibanya di terminal Tambakoso Wilangun, suasana sepi di depan mata. Beberapa calo penumpang sudah menawarkan jurusan bermacam-macam begitu turun dari bus. JMP, Perak, dan beberapa jurusan lainnya yang tidak saya kenal. Kali ini posisiku agak sulit. Mengingat jarak yang saya tempuh sangat jauh sekali.

Agak gelisah saya memasuki tempat penumpang. Berputar pikiran untuk mengikuti bus jurusan Malang. Kenapa saya tidak mencobanya, tanyaku. Saya pun kemudian melewati ’robot-robot’ itu lagi. Beberapa calo penumpang sudah menawari jurusan macam-macam ketika saya melewatinya.

Bus jurusan Malang masih berhenti. Saya pun menunggu di sebelahnya. Berdiri mematung –menunggu lama. Menolak tawaran para pengarah. Menolak penjual koran.

Setelah sopir bus naik, saya pun melompat. Menanyai: apakah bus ini melewati Bungurasih? Namun apa katanya, saya ditolak mentah-mentah. Saya turun dengan gontai —khawatir tidak bisa sampai ke tempat tujuan.

Agak bingung, saya kemudian mencari penjual voucher. Pulsaku habis. Saya tidak bisa izin kalau-kalau nanti terlambat. Pada penjual pulsa itu saya jadi berkeluh kesah. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sarannya, saya bisa naik lin menuju Bunderan. Setelah itu mencari bus dari Semarang. Padahal saya sama sekali tidak tahu tujuan yang ia sebutkan itu.

Hari makin sore. Adzan ashar terdengar di telinga. Keinginan bertanya lagi saya urungkan. Sementara di sana berderet taksi berwarna biru. Rasanya saya perlu mencobanya untuk kedua kali. Walaupun mungkin harganya begitu terasa.

Seseorang datang menghampiri. “Ojek mas?” tawarnya.

One Comment

  1. arifiani wrote:

    perjalanan kehidupan

    Tuesday, August 15, 2006 at 2:12 pm | Permalink

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*