Skip to content

Infotainment dan Gosip Haram Itu

Sehari di rumah, Kamis kemarin, banyak waktu yang terbuang untuk menonton televisi. Jarang-jarang saya punya ‘kesempatan emas’ seperti ini. Kerjaan yang begitu menumpuk, tidak memberi kesempatan untuk menikmati ‘gemerlapnya dunia’. Ternyata, kalau mau memetakan, hampir separo dari televisi sepanjang hari itu berisi dengan acara gosip!

Infotainment, begitu mereka bilang, begitu mendominasi. Mulai pagi buta, salah satu stasiun televisi sudah menghadirkan isu-isu hangat tentang para artis —walau dugaan saya hanya siaran ulang. Ini masih subuh, kalau rajin mengikuti, acara itu masih akan berlanjut hingga menjelang sore —dengan format dan stasiun televisi yang berbeda.

Mereka yang menghadirkan tentu tidak peduli: siapa yang bosan dan siapa yang suka. Bahkan karena —konon— berating tinggi, acara itu makin hari seolah kian subur saja.

Waktu itu, saya pun memasang mata dan telinga.

“Ini merupakan satu-satunya infotainment yang menghadirkan informasi tentang orang terkenal. Tidak ada yang ditambah-tambahi, tidak ada yang dikurangi,” kata presenter infotainment itu, mengawali acaranya. Kata-katanya memang menggoda, seolah proporsionalitas berita begitu dihormati.

Sebagai penonton yang setia, saya pun percaya saja. Bagaimana bisa memberi batasan sebuah berita ditambah-tambahi atau dikurangi?

Cuplikan-cuplikan ‘gosip’ kemudian dipaparkan satu per satu dengan begitu luwes. Ibarat sebuah koran, ia merupakan indeks berita dalam yang bakal dihadirkan. Pertama, ‘gosip’ tentang pemukulan terhadap pacar Asti Ananta (maaf kalau saya salah sebut). Berita ini menjadi sajian utama. Disusul koleksi sepatu salah satu artis yang saya tidak hafal namanya. (ini bedanya dengan berita orang biasa, sepatu koleksi selebriti bisa menjadi berita)

Tidak itu saja, kehamilan Nana Mirdad di luar nikah diulas kembali. Padahal, bagi yang rajin mengikuti gosip, berita ini bukanlah berita ‘hot’. (Haha, ketahuan saya suka mengikuti acara gosip)

Menonton itu semua, saya tidak perlu mengeluarkan banyak energi untuk berpikir. Konon, infotainment merupakan ‘tontonan-tanpa-proses-pikir’. Seolah semua begitu ringan. Berita persidangan Rivaldo akibat kasus narkoba bisa mengalir begitu saja di tangan para jurnalis infotainment ini. Ringan, sekaligus menghibur. Walau kadang banyak berita infotainment yang didominasi dengan kawin-cerai.

Sebenarnya, saya juga tidak begitu paham dengan ‘gosip-gosip’ itu. Namun karena pekerjaan saya yang dekat dengan berita selebriti, jadi sedikit banyak saya juga ikut tahu tentang berita-berita seputar public figure itu.

Pernah suatu hari, ketika saya bertemu seorang teman, dia bertanya soal pekerjaan. Setelah saya beritahu kalau kerjaanku dekat dengan berita selebriti, kontan ia berteriak dengan kata yang tidak enak di telinga: GOSIP! Memang, dan saya tidak tahu, apakah berita tentang selebriti itu termasuk gosip atau tidak. Setahuku, gosip merupakan berita yang belum terbukti kebenarannya. Gosip merupakan berita isapan jembol yang tanpa dikonfirmasi.

Anehnya, label-label gosip sangat marak di televisi. Anehnya lagi, gosip-gosip itu begitu dibanggakan.

Berbicara tentang infotainment, tentu mengingatkan tentang haramnya infotainment yang masih hangat dibicarakan itu. Walau masih pro-kontra banyak kalangan masyarakat, setidaknya fatwa ulama NU kali ini diharapkan bisa mengerem dampak keburukan dari tayangan di televisi. Di sini, para ulama itu melihat bahwa infotainment saat ini sudah mendekati ghibah alias pergunjingan. Bagaimana mungkin berita tidak jelas bisa diberitakan?

Ghibah memang haram. Itu jelas. Sedangkan berita tentang selebriti belum tentu ghibah —walau berita itu jelek semisal kehamilan di luar nikah. Ketika berita itu disampaikan secara prosedural, tentu masih tetap bernilai pendidikan, walau jelek adanya. Bahwa: hal yang tidak layak pada artis A, sebagai contoh, tidak patut ditiru. Syaratnya tentu harus konfirmasi yang bersangkutan, plus bukti yang menguatkan, sehingga kebenaran berita bisa dipertanggungjawabkan.

Lantas bagaimana kalau berita berseberangan dengan yang bersangkutan. Tentu saja, harus cukup bukti yang biasa menguatkan. Semisal, gosip pernikahan Ahmad Dhani dengan Mulan, media tentu tidak boleh memberitakan kalau tidak ada konfirmasi dan pendukung yang kuat. Siapa walinya, siapa saksinya, dlsb. Sehingga beirta itu tidak hanya mengandalkan ucapan Eddy Manaf —ayah Dhani— yang juga tidak tahu persisnya proses pernikahan itu. Ajang gosip pun kemudian menggelinding menjadi permusuhan ayah-anak. Seolah media gosip tanpa ‘berdosa’ memberitakan gosip pernikahan—yang bisa merugikan citra keduanya.

Kenyataannya, yang diberitakan di televisi memang sudah begitu jauh. Sebuah berita lemah namun heboh bisa saja tayang dengan gamblang. Maklum, lha wong gosip, barangkali kelit acara tersebut. Dan kali ini gosip memang benar-benar gosip. Kalau sudah begitu… tentu jelas hukumnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah: siapa bisa membatasi seseorang menonton televisi —khususnya acara infotainment? Tentu saja, diri sendiri. Dan fatwa itu, tak lebih hanya polemik yang mungkin mirip gosip di televisi.

6 Comments

  1. ion wrote:

    Woouuwww….tampilan rumah barunya bagus mas imponk :)

    Monday, August 14, 2006 at 5:18 pm | Permalink
  2. OOT Wah setting baru yang bagus ini: berjajar dua tulisan, bukan konvensional yang ke bawah. Salam, Anwar.

    Monday, August 14, 2006 at 6:32 pm | Permalink
  3. Jauhari wrote:

    Fatwa Terahadap Diri Sendiri saja…
    Mulai dari yang kecil mulai dari diri sendiri.

    Tuesday, August 15, 2006 at 4:30 pm | Permalink
  4. ap wrote:

    Aku jadi inget…
    dulu rumahku ada teve setelah aku kuliah..
    ternyata juga ada dosenku yang dirumahnya juga tidak ada teve…

    Tuesday, August 15, 2006 at 6:47 pm | Permalink
  5. kalo nonton tv saya suka kemrungsung, memaki-maki tv yang tak jelas. daripada emosi tak stabil, saya menghindari tv. tv haram? mbuh…

    Wednesday, August 16, 2006 at 1:03 pm | Permalink
  6. pipi wrote:

    semuanya t3rgantung ama d!r! k!ta s3ndiri…………jad!….

    Saturday, July 7, 2007 at 12:29 pm | Permalink

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*