Skip to content

Melihat Guantanamo

introgasiPria itu tertunduk. Kepalanya tertutup kain hitam.

“Menunduk!” hardiknya, mesekipun ia sudah dalam posisi. Dengan sekali tendang, pria berbadan kurus itu ambruk tersungkur ke tanah. Ia kemudian di seret oleh dua pria tegap ke dalam.

“Lepaskan,” perintah seseorang berwajah Barat. Rupanya ia orang tinggi yang akan memberinya beberapa pertanyaan.
“Kau dapat melihatku?” tanyanya setelah melepas kain hitam yang membungkus kepalanya. “Lihat dia.” Perintahnya lagi seraya menengok ke samping. Ia dapat melihat moncong diarahkan kepadanya. Posisinya benar-benar sulit.

“Siapa namamu?” tanyanya tegas.
“Shafiq.”
“Tanggal lahir?”
“15 April 1977″
“Asal?”
“Tipton.”
“Oke Shafiq. Kamu Al-Qaidah?”
“Tidak.”
Sebuah pukulan tiba-tiba mendarat di dadanya. Pria itu hanya bisa meringis menahan pukulan.

“Apakah kamu Al-Qaidah?” pertanyaan itu diulang lagi.
“Tidak.”
Sebuah pukulan tiba-tiba mendarat di dada. Ia hanya bisa meringis menahan sakit.
“Sekali lagi, apakah kamu Al-Qaidah?”
“Tidak.”
Lagi-lagi pukulan mendarat di dadanya.

“Kamu tahu, sampai kapan ini akan berlangsung? Untuk itu, bicaralah sebenarnya.”

***

jagaKemarin, saya seperti melihat gambaran sebenarnya bagaimanakah nasib para tawanan yang mendekam di tahanan para teroris —Kamp X-Ray dan Kamp Delta— Guantanamo Bay, Kuba. Narasi di atas saya ambil dari secuil adegan dalam film The Road to Guantanamo. Mungkin tidak sama persis, karena saya tidak dapat mengingat secara detail, namun seperti itulah suasana interogasi tentara Amerika tehadap para tahanan di sana. Selain diinterogasi, mereka juga menerima banyak perlakuan tidak manusiawi.

Perang terhadap teroris, begitulah yang didalihkan Amerika, rupanya tidak mengindahkan hak asasi para tahanan. Padahal Bush telah berkata bahwa para penghuni tahanan itu perlakukan manusiawi. “Apa yang mereka lakukan di Guantanamo merupakan tindakan yang manusiawi, tepat, konsisten dan sesuai dengan konvensi Jenewa,” tegas Donald H. Rumsfeld kepada salah satu stasiun televisi menepis berita yang beredar beberapa waktu lalu setelah sempat beredar foto-foto di internet bahwa telah terjadi penyiksaan di Guantanamo. Potongan pernyataan Rumsfeld itu juga turut menghiasi bagian dari film gaya dokumenter berdurasi 95 menit itu.

Peraih Golden Bear dari Festival Film di Berlin itu mencoba mengisahkan bagaimanakah suasana di tahanan yang menyeramkan dibawah ancaman para tentara Amerika. Tidak hanya itu, penangkapan para penghuni itu juga tanpa melalui proses yang jelas. Sekonyong-konyong dibawa begitu saja dengan sebuah truk dari jalanan perbatasan Afghanistan, tanpa bukti bersalah. Mereka dimasukkan dalam truk yang pengap berdesak-desakan tanpa makan. Dan akhirnya, memasuki penjara yang penuh dengan penghuni, berdesak-desakan.

The Road to Guantanamo mengisahkan perjalanan Tipton Three (tiga sekawan asal Tipton, Birmingham, Inggris) yang mengalami penyiksaan di kamp Guantanamo. Mereka adalah Ruhel Ahmed, Asif Iqbal, dan Shafiq Rasul. Sebenarnya mereka masih dengan dua teman lagi, yakni Moner dan Zahid. Tetapi Moner akhirnya tidak diketahui nasibnya. Sementara Zahid, tidak termasuk dalam kelompok Tipton.

Sebenarnya, tujuan mereka adalah Islamabad untuk menemui seorang wanita yang akan dinikahi Iqbal. Namun, mereka malah pergi ke Karachi. Saat itu, niat mereka adalah membantu seorang imam masjid lokal yang membutuhkan relawan untuk berangkat ke Afghanistan.

Di Afghanistan, ketiganya jatuh ke tangan yang salah. Oleh kelompok aliansi utara, mereka ditangkap dan dijebloskan ke penjara di Sheberghan. Ketika diketahui bahwa mereka adalah orang Inggris, ketiganya dibebaskan dan diserahkan ke tangan pemerintahan Amerika Serikat di Afghanistan. Tidak bebas, mereka justru masuk ke dalam mimpi buruk yang tak pernah terbayangkan: masuk penjara Guantanamo. Kehidupan yang berat mereka alami di sini. Mereka di kurung dalam ruang sempit terbuka yang jika siang hari terasa sangat panas, dan jika malam hari dingin menggigit tulang. Tidak hanya itu, tiap waktu mereka harus menjalani beberapa pertanyaan berulang yang disertai perlakuan kasar.

Dalam film ini, perjalanan demi perjalanan dibeberkan dengan pengakuan dari mereka. Sehingga, ketika menyaksikan bagiannya seperti sebuah cerita yang mengalir dari mulut —tidak seperti film. Ada sebagian dari dokumen televisi yang menggambarkan bagaimanakah keadaan waktu itu yang cukup sulit.

“Bayangkan,” kata Michael Winterbottom, sang sutradara, “Jika ada orang yang mengatakan lima tahun lalu bahwa pemerintah Amerika akan membangun sebuah tempat karena menawan orang-orang seperti ini dianggap ilegal di negara mereka, sehingga tidak mungkin membawa mereka ke negaranya. Ternyata, mereka menawan orang-orang ini selama empat tahun tanpa pengadilan dan bahkan tanpa tuntutan, orang mungkin akan menganggap kamu gila.” Ternyata, inilah yang terjadi di Guantanamo.

The Road to Guantanamo seolah ingin membuka mata kita semua, bahwa Amerika telah berbuat tidak manusiawi kepada para tahanan di sana. Tidak hanya itu, Islamfobia juga tampak menghantui para tentara itu sehingga tak segan-segan memberi hadiah pukulan ketika ada tahanan yang melakukan salat.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*