Skip to content

Atas Nama Kemanusiaan

Entah mengapa, film berlabel based on a true story selalu membuat penasaran. Mungkin karena terkait dengan sejarah, sehingga kisahnya dianggap nyata senyata-nyatanya. World Trade Center, salah satu film yang diangkat dari tragedi 11 September beberapa waktu lalu menghiasi layar bioskop dunia. Saya termasuk salah satu yang penasaran untuk melihatnya.

Sebagaimana judulnya, film ini menceritakan tentang World Trade Center saat ledakan terjadi. Tidak dari bagaimana runtuhnya, tetapi ke bagaimana kisah orang-orang yang tertimpa gedung tersebut –lebih spesifik lagi kepada dua polisi penyelamat yang terjebak dalam reruntuhan konstuksi bangunan yang diarsiteki oleh orang Minoru Yamasaki itu.

Ini tentu saja bukan satu-satunya film yang diinspirasi oleh peristiwa yang konon ditimbulkan oleh teroris itu. Sudah beberapa film serupa namun dari sisi-sisi tertentu –seperti Loose Change dan The Path to 9/11. Bagi warga Amerika sendiri, khususnya New York dan New Jersey, peristiwa 11 September merupakan peristiwa ‘gelap’ tak terlupakan. Namun ternyata, ada juga kisah menarik dari kehancuran gedung kembar pencakar langit itu, seperti selamatnya dua polisi yang ingin mengevakuasi korban yang tertimpa reruntuhan gedung –difilmkan dalam World Trade Center ini.

Tidak seperti film-film garapan Oliver Stone yang biasanya nyerempet-nyerempet muatan politis, kali ini sang sutradara hanya menonjolkan sisi kemanusiaan –walau bisa saja ditonjolkan aksi terorisme itu yang kemudian akan menyudutkan pihak-pihak tertentu. Alih-alih menyingkap siapa dibalik pembajakan pesawat, film ini berkisah tentang regu penolong.

Sebenarnya film ini diangkat dari sebuah kisah yang sederhana. Adalah sersan John McLoughin dan Will Jimeno, dua polisi yang ingin mengevakuasi korban, malah tertimpa reruntuhan gedung saat regu mereka berusaha masuk. Keduanya berhasil selamat setelah masa-masa sulit penantian regu penolong. Tidak begitu jelas, berapa lamakah keduanya bertahan, dalam film berdurasi sekitar 192 menit itu, seolah waktu berjalan sangat lambat. Walau gelap malam berganti, rupanya regu penolong pun tiada segera datang –padahal Amerika tentu mempunyai tim evakuasi yang canggih.

Dramatisme dibangun dari suasana mencekam, kepanikan, saat pesawat menumbuk gedung. Banyak yang tidak percaya akan peristiwa itu. Ada yang menduga bahwa kecelakaan itu disebabkan karena kehabisan bahan bakar, dan lain sebagainya. Praduga-praduga pun bermunculan di benak siapa yang menonton siaran langsung di televisi atas peristiwa itu. Namun, rupanya, dengan sigap pemerintah sudah tahu siapa pelakunya.
terjepitDamatisme –yang menjadikan film berjalan lambat– juga dibangun dari dialog-dialog ketika dua penyelamat itu tertimpa reruntuhan. Meski tubuh dan kaki tidak bisa bergerak, namun mereka tetap bertahan. Untuk mengisi waktu, mereka kemudian menceritakan tentang keluarga mereka masing-masing: Will Jimeno mempunyai seorang istri yang sedang hamil, sementara John McLoughin sudah dikaruniai empat orang anak yang masih kecil. Suasana cemas keluarga masing-masing turut membuat film ini menjadi cukup dramatis.

Dalam keputusasaan itu, keduanya saling berpesan kepada keluarga masing-masing jika tidak selamat dari himpitan besi dan beton.

Apa pesan keduanya? Pesannya adalah cinta. Mereka mencintai istri dan anak-anak mereka. Namun akhirnya, keduanya bisa bertahan hingga regu penolong datang. Senyum bahagia terpancar dari wajah mereka, terlebih Will Jimeno yang bisa melihat anak perempuannya. Mereka menjadi pahlawan kemanusiaan.

Peristiwa World Trade Canter telah memakan banyak korban –jiwa, cacat, lumpuh, maupun dampak psikologi. Apapun alasan peledakan itu, tidak dapat dibenarkan dari sisi kemanusiaan.

2 Comments

  1. aCha wrote:

    emang bentul betul, siapapun yang melakukan itu ngga bisa diterima.

    Kejam banget sih tuh orang!!!

    Tuesday, November 14, 2006 at 7:14 am | Permalink
  2. Sebuah film “klise” lagi dari jagad Hollywood, tidak ada yang menarik. Kukira film WTC akan bercerita sesuatu yang lebih “menarik” lagi tentang apa-apa yang terjadi “dibalik” peristiwa itu.

    Tidak ubahnya seperti film-film yang lain, yang bercerita flashback gaya Amerika, cuma settingnya aja kebetulan ada di WTC yang mau runtuh. Kalau film yang lain, setting bisa di kapal yang mau tenggelam, pesawat yang jatuh di hutan belantara, dll. Intinya sama

    Kukasih bintang 1 dari total bintang 5 untuk nilai film ini … :)

    “…..yang lagi ’sok’ jadi kritikus …. ”

    nb: “Death of President (USA)” sudah beredar di Indonesia belum ya? Liat yang itu deh, kereeen !

    Tuesday, November 14, 2006 at 10:58 am | Permalink

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*