Skip to content

War on Terror

Malam tadi, HBO –siaran kabel dari tempat kerjaku– menyiarkan dokumenter tentang Bush terkait dengan peristiwa 11 September. Ternyata, dalam analisa dokumenter tersebut, Bush sendiri tidak bisa lepas dari peristiwa tak terlupakan itu. Hubungan Bush senior dengan bangsawan Arab seolah-oleh memberikan gambaran persekongkolan antara dunia Barat-Timur. Hubungan itu kemudian diwariskan kepada Bush Jr, yang titik baliknya adalah peristiwa 11 September. Gedung WTC di New York ambruk, Pentagon hancur.

“Barat itu canggih ya,” komentar seorang teman. “Mempunyai dokumen yang lengkap,” sambil melihat potongan percakapan mau pun peristiwa yang mencatat perjalanan Bush bersama para petinggi kerajaan Saudi.

Kalau memperhatikan dari awal hingga akhir, sepertinya, ada percaturan politik dan kekuasan, hingga bercampur dengan keyakinan. Bush yang konon menjadi biang terbunuhnya ribuan warga Iraq saat invasi dan 3.000 tentara AS itu, berusaha memunculkan gagasan “war on terror” pada warganya.

“Udara Amerika jauh lebih sejuk dari pada mana pun,” ujar Bush berpidato seolah menakut-nakuti warganya akan teror jika warganya liburan ke daerah lain “Teror sedang mengancam kita. Di sini ada Disneyland, dan pusat hiburan yang cukup aman.”

Warga AS yang diwawancarai rupanya terpancing dengan apa yang telah Bush sarankan terhadap warganya. Ketakutan seolah telah berhasil merasuk pada diri semua warga Amerika. Paranoid itu seolah klop seperti film yang kemarin saya tonton yang menceritakan sebuah perampokan Manhattan Trust Bank. Kala itu, salah satu sandra berwajah berewok, karena diindikasikan tersangka, polisi pun terkejut saat menyingkap penutup kepala. “Are you Arab? You’re the f**king Arab?” teriaknya sewot. Padahal, ia bukan orang Arab.

Usamah Bin Ladin berkali-kali muncul sebagai selingan percakapan beberapa pejabat tinggi di AS. Seolah, ia hanyalah ‘teman sepermainan’ dalam lakon “war on terror” itu. Di sana, hanya sebagai pemain antagonis yang siap melawan Amerika.

Saya sendiri kagum oleh tayangan dokumenter yang menguak kebohongan publik soal perang teror yang dicanangkan Bush itu. Mungkin inilah iklim kebebasan dalam berpendapat di negara itu. Ketika sajian mempunyai fonasi kuat, maka tayangan yang memojokkan penguasa pun tidak dilarang. Yang percaya silakan, yang tidak bukan masalah.

Sayangnya, tidak ada yang bisa melumpuhkan wacana Bush soal “war on terror” sampai saat ini. Meski Bush telah mengorbankan 3.000 tentara dan membunuh banyak warga sipil Iraq, ia masih tetap dianggap sebagai ‘pahlawan’ oleh sebagian orang –sebagaimana ada yang menganggap ‘pahlawan’ pada Usamah Bin Ladin.

Semoga kita semua bisa membuka mata.

One Comment

  1. hanin wrote:

    Saya pernah baca (lupa lagi di mana) katanya Bush Sr dan PM Inggris pernah ngobrol: “Kita berdua udah lengser nih, tapi si Saddam yang mau kita lengserin masih nongkrong di Irak. Jadi siapa yang kalah sebenernya?”

    Heran juga, masyarakat Amrik yang katanya pinter-pinter itu bisa dibohongin dengan sukses. Alasannya dulu ‘mass destruction weapon’ yang sampai Saddam wafat pun ngga ketemu-ketemu.

    Sayang saya ngga punya HBO… (hm ketauan yah nonton TV aja di kantor!)

    Monday, January 8, 2007 at 8:28 am | Permalink

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*