“Jangan melihat sisi kosong dari gelas yang terisi air setengah itu,” ujarnya agak berfilsafat –membuat saya otak saya mencari makna atas katanya yang berat.
“Padahal, isi airnya sama,” ujarku kemudian.
“Ya, itulah… yang membedakan cara pandang orang yang optimistis dengan orang pesimistis. Cara bagaimana ia memandang.”
Saya mengangguk-angguk. Setuju dengan apa yang diucapkannya. Dan malam itu, saya mendapat pelajaran sederhana tentang bagaimana cara membangun optimisme.
5 Comments
Bila di kiri-kanan-depan-belakangmu ada tembok penghalang, jangan menyerah, engkau masih bisa melihat ke atas.
:-)
wah kalo ini aku punya bukunya, judulnya “setengah isi setengah kosong”. Njenengan mampir aja ke tempatku… buku2nya tak taruh di lab kok
novel penggugah jiwa,,, temenku ada yang 14 x membacanya, bahkan ada yang puluhan x,seperti orang yang dahaga..air yang di carinya,, padahal hanya subuah novel,tapi kaya.. bisa menjadi,penggugah jiwa,memotifasi,dan mengajak…ada keteladanan di situ
saya yakin, itu hasil dari renungan Al Qur’an juga.
subhaana4JJI kalau begitu Al Qur’an jauuh lebih kaya.karna ia adalah firman dari yang maha kaya..begitu banyak kisah2 dalam AlQur’an,,
makasih ustad habib.
mg sll membawa manfaat,
“ada optimisme di situ”
salam kenal buat semua.
salam kenal buat mas imponk dan semuanya..
karya kang abik.. “novel sebagai penggugah jiwa” mampu membuat pembacanya memiliki kayakinan dan optimisme akan kehidupan.. terutama pandangan tentang “keagungan cinta” yang dikisahkan oleh kang abik, pembaca dapat belajar untuk mencintai sesuatu itu hanya semata-mata karena Allah.
subhanallah..
“syukran kang abik”
Post a Comment