Skip to content

Perbedaan Itu Rahmat

“Lebaran kali ini beda lagi, Kang.” Tiba-tiba Shomad membuka pembicaraan. Langit cerah sore itu sangat asyik untuk mengobrol menunggu datangnya buka puasa yang sudah menginjak malam ke-25.

“Ya, aku tahu. Trus, kenapa?” tanya Jalal yang dikenal sebagai santri yang paling alim di pondok pesantren Attanwir.

“Gak knapa-knapa. Gak enak saja. Kok, kesannya Islam itu tidak rukun. Berlebaran saja tidak bareng. Penetapannya pakai ribut-ribut segala!” beber Shomad dengan muka geram. “Padahal di agama lain tidak pernah kejadian penetapan hari besar pakai ribut-ribut.”

“Sebenarnya yang berhak menetapkan itu pemerintah. Kalau dulu menurut sejarah Islam, penetapan Syawal dan lain sebagainya ditetapkan sultan, ulil amri. Di sini, pemerintah menghormati pendapat kelompok yang mempunyai ijtihad itu, seperti Muhammadiyah —yang menetapkan 1 Syawwal pada 12 Oktober mendatang— dan NU yang merupakan dua kelompok islam di Indonesia.
Dan semua sudah jelas, tidak ada yang perlu diributkan, to?”

“Orang awam seperti aku?” tanya Shomad melongo.
“Ya tinggal ikut. Wong tidak punya keahlian dalam berijtihad.”
“Hm… gitu ya.” Kepala Shomad manggut-manggut. “Tapi sebenarnya aku tidak mengerti, kenapa ya kok bisa beda, padahal metodenya sama. Ijtihad juga kan?”

“Dasar penetapan 1 Syawwal kan hadist yang berbunyi shumuu li ru’yati, wa aftharu li ru’yati, berpuasalah kalau sudah tampak (bulan yang menandakan 1 Ramadan) dan berbukalah, dalam hal ini habis bulan Ramadan, kalau sudah tampak (bulan yang menandakan 1 Syawwal). Rukyah itu merupakan metode klasik untuk menghitung bulan baru.

Nah, bagi kalangan Muhammadiyah, rukyah itu tidak harus dimaknai dengan melihat bulan dengan mata telanjang. Alasannya, sekarang zamannya sudah modern. Kalau zaman nabi dulu masyarakatnya kan masih banyak yang ummi, buta baca-tulis dan perhitungan astronomi. Hisab dirasa sudah cukup akurasinya.”

“NU sendiri?”
“NU sendiri juga menggunakan metode hisab. Namun, untuk membuktikan, harus disertai dengan rukyah sebagaimana bunyi hadist yang kusebutkan tadi. Nah, kebetulan untuk tahun ini, hilal di sebagaian wilayah Indonesia terlihat di bawah 1 derajat. Itu sangat sulit untuk dilihat. Nah, setelah itu hasil rukyah diberitakan. Jangan salah… NU tidak pernah menetapkan 1 Syawwal.”

“Jadi?”
“Jadi, menurut NU, kalau bulan tidak bisa dilihat, Ramadan kemudian di-istikmal, disempurnakan, menjadi 30 hari.”

“Kalau aku boleh milih ya jelas, aku milih yang 12 Oktober saja. Dapat diskon tidak puasa sehari. Bukannya dalam dua persoalan yang sulit kita harus ambil yang termudah?”
“Hush! Itu namanya cari untung! Tidak boleh dengan alasan seperti itu. Kalau ikut Muhammadiyah silakan, tapi bukan untuk nyari diskon seperti itu…”

“Bukannya perbedaan itu rahmat?”
“Perbedaan itu rahmat diambil dari sebuah kasus yang membutuhkan ijtihad semacam ini. Karena masing-masing menggunakan pemikiran logis, jadi semua bisa diterima. Dan sahih, benar. Jadi Lebaran tanggal 12 Oktober atau 13 itu sama-sama benar.”

“Jadi, ‘perbedaan itu rahmat’ bukan semata-mata kata mutiara seperti ‘mengalah bukan berarti kalah’ atau ‘kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda’?”
“Sudah jelas kan?”

5 Comments

  1. fisto wrote:

    islam itu kan memang menjadi rahmatan lil alamin, jadinya kalaupun ada perbedaan dalam islam, selama itu tidak menabrak prinsip2 tauhid dan apa yg sudah digariskan oleh baginda Rasullullah, maka itu pun insya Allah menjadi rahmat bagi kita semua…

    Monday, October 8, 2007 at 1:46 am | Permalink
  2. kalau di negara lain bagaimana ya? apakah ada juga perbedaan? kalau tidak ada, berarti masalahnya memang ada di kita, bukan di bulan.

    dan, ngomong2 konon hadis “perbedaan adalah rahmat” itu hadis dhaif alias lemah lho…

    Monday, October 8, 2007 at 4:15 am | Permalink
  3. Qky wrote:

    Cappek…deh…, wong bulan cuman atu… tapi… yah gitu, deh…. btw, mestinya Pemerintah “WAJIB” ambil alih urusan yang menyangkut hajat “keyakinan” orang banyak… Kalo tidak salah, kita wajib patuh sama ulil ‘amri bukan Muhammadiyah dan NU, kan?

    Monday, October 8, 2007 at 2:26 pm | Permalink
  4. Jauhari wrote:

    Semua ada Hikmahnya :D

    Monday, October 8, 2007 at 2:46 pm | Permalink
  5. Anang wrote:

    yg tetep sama adalah ucapannya.met idul fitri.mhn maaf lahir batin.

    Monday, October 8, 2007 at 5:34 pm | Permalink

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*