Rumah itu masih berdiri kukuh. Sinar matahari menerobos eratan kayu berwarna hijau, menembus dedaunan tanaman hias yang memenuhi teras. Panasnya seakan memantul kembali olehnya, membiarkan rumah itu tetap dingin walau menghadap langsung ke matahari.
Dinding-dinding yang putih itu sekarang berubah menjadi hijau kebiru-biruan. Walau kini warnanya telah berubah, tetapi saya masih ingat kursi yang selalu nyaman di duduki di depan itu. Tempat di mana selalu enak membaca koran pagi. Sambil menikmati udara Solo yang sejuk.
“Assalamu’alaykum,” sapa saya. Orang yang di dalam kemudian menyeruak di antara ketidakpercayaan –tentu saja kedatanganku begitu mendadak.
“Bagaimana kabarnya?” tanya mereka setelah kami bersalaman, saling memaaf-maafan. “Alhamdulillah, baik. Masih seperti dulu.” –sebuah jawaban standar. Saya duduk di ruang tengan bersama keluarga. Pak Tomo, pemilik rumah itu, masih tetap seperti dulu. Di ruang tengah itu, televisi masih memperlihatkan berita-berita kriminal. Sementara asap rokok mengepul di tangan kanannya yang sesekali dia isap dalam.
Dia terkekeh. “Berita kriminal. Kesukaan bapak,” ujarnya.
“Tivinya kok berubah menjadi kecil?” tanya saya berbasa-basi. Dulu, saya rasa, tidak sekecil ini.
“Yang besar rusak. Itu, di bawah, ngangkrak belum diperbaiki,” ujarnya menunjukkan kotak tertutup kain, sambil sesekali mengisap rokoknya dalam.
Saya heran, meskipun pernah sakit parah –dari cerita dulu–, rupanya kebiasaan merokoknya masih saja tidak dapat dihentikan. “Sudah berumur hendaknya rokok diberhentikan,” saranku.
Dia terbatuk-batuk.
“Sekarang sudah mulai berkurang,” ujarnya kemudian seperti menyadari. Dia mematikan rokok. Menyeruput teh sambil mempersilakan sebuah minuman segar dari kulkas. Panas seakan sirna. Kipas angin yang menyala di sudut ruang membuat panas siang itu musnah.
Di ruang tengah itu kami berbincang tentang hari-hari yang dulu pernah saya lalui. Ya, di tempat inilah saya pernah hidup. Menjadi anak kos. Sekitar dua tahun lebih. Hingga saya seperti wajib datang pada Lebaran tahun ini.
Ternyata, tidak banyak yang berubah… Kecuali dinding itu yang sekarang sudah menjadi hijau kebiru-biruan.
One Comment
Uhhh makin hebat saja tulisan si thole ini. Ajarin dong…
Post a Comment