“Alangkah beningnya…” kata saya dalam hati, takjub. Ternyata selama ini saya melihat dengan pandangan yang serbaterbatas. Di hadapan saya, seakan baru menyadari, ada banyak hal yang semestinya bisa dinikmati detailnya. Pepohonan yang hijau dengan daun-daun seperti butir padi. Burung-burung kecil yang biasa bergerombol di halaman parkir. Bahkan, pucuk gedung ini pun tidak pernah saya lihat sedetail ini. Tentu kalau malam, saya kira, saya akan melihat cahaya lancip ke atas persis seperti pena.
Bukan… Bukan saya tidak bisa melihat sebelumnya, tetapi keadaan mata yang mulai kabur [maklum sudah tua hehehe] membuat tidak begitu awas melihat sesuatu –lebih tepatnya tidak begitu menarik untuk dinikmati.
Dua tahun memakai kacamata minus, rupanya rupanya belum cukup membuat mata ini awas. Tidak terlalu parah memang, tetapi kadang membuat ragu untuk menyapa ketika bersinggungan dengan seorang yang saya kenal: takut salah.
“Sekarang minus berapa?” tanya saya kepada penjual kacamata penuh tanda tanya setelah disodori huruf-huruf yang semakin mengecil. Beberapa lensa yang dicoba menjadi jelas.
“Satu setengah,” katanya sambil membubuhkan keterangan pada secarik kertas, -150 dua kali. Itu adalah keterangan kedua mata kanan dan kiri.
Separah itukah? Saya sedikit kaget. Dan memang begitulah. Harusnya saya tetap rajin periksa setiap enam bulan sekali. Tetapi kenyataannya, saya takut menjalani cek itu. Mungkin penjual kacamata juga agak heran melihat sikap yang terlambat setelah mendapat jawaban: “sudah dua tahun saya memakai kecamata ini.”
“Modelnya seperti apa?” tawarnya kemudian.
“Saya mau yang ringan.”
Kemudian saya disodori beberapa kacamata dengan frame hitam besar. “Ini model terbaru. Biasa dipakai orang sekarang,” sarannya. Terlihat kokoh ketika saya pakai di depan kaca. Persis seperti bintang sinetron [kacamatanya, bukan saya hehehe]. Terlihat beda dan sedikit ‘aneh’.
“Yang lebih ringan?” tanya saya. Ia kemudian mengeluarkan model dengan frame separo. Terlihat ringan. Dan benar, saya merasa nyaman dengan model ini.
“Bedanya dengan tadi?” tanya saya seperti tidak mengerti.
“Yang tadi model baru. Kokoh. Sporty. Cocok dipakai untuk segala suasana.”
“Yang ini,” ujar saya memutuskan, memilih yang lebih ramping walau tidak sporty.
Si penjual kemudian meminta waktu untuk memotong kaca.
“Awalnya mungkin kurang nyaman. Mata butuh penyesuaian,” kata sang pemeriksa, persis seperti dulu pernah dikatakan.
Saya paham.
Seperti yang saya duga, minusnya pasti tambah banyak. Ini karena kebiasaan be[r]gadang berhadapan dengan komputer, pencahayaan ruangan yang kurang, dan kebiasaan jarang mengonsumsi sayur.
Memiliki pandangan yang jelas ternyata menyenangkan. Ada banyak sesuatu di depan yang bisa dinikmati hehehe…
—
Terucap terima kasih untuk Pak Agus yang mengantarkan saya memilih kacamata. Tanpanya, mungkin pandangan saya akan tetap kabur.
Post a Comment