The future is closer than you think.
Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada pada 2057 mendatang. Tetapi dengan menyaksikan film “dokumenter” Discovery Channel –yang tersimpan di laptop bonus dari pembelian serial movie– tadi sore, saya jadi membayangkan bahwa masa depan sebuah dunia saat itu.
2057, seperti dimimpikan, teknologi menjadi bagian penting dari kehidupan. Manusia dengan otaknya yang begitu canggih, telah memanfaatkan sumber energi alami –di antaranya panas matahari– sehingga tetap ramah lingkungan.
Walau terkesan menghayal –bagaimana mungkin bisa membuat film masa depan?–, film berdurasi pendek itu terlihat sangat nyata berikut komentar para pakar. Michio Kaku, misalnya, seorang pakar psikologi Jepang dari City University of New York, memberikan gambaran akan masa depan dengan sangat gamblang. Rupanya eksperimen bertahun-tahun para pakar telah memberi kontribusi temuan-temuan baru bagi kemudahan manusia.
“Inikah masa depan?” tanya saya dalam hati sambil menyaksikan kendaraan-kendaraan berlalu-lalang di udara sebagai alat transportasi pribadi.
Sensor-sensor berupa chip tertanam pada pakaian, sehingga setiap gerakan, kondisi tubuh, selalu dimonitor oleh sistem komputer. Sambil bersikat gigi, kita dapat berkomunikasi dengan komputer tentang kondisi gigi yang kita bersihkan, lengkap dengan gambaran gigi yang tergambar di udara melalalui proyeksi.
Ketika terjadi kecelakaan seperti terjatuh dari tangga misalnya, tidak sampai 9 menit, bantuan penyelamat datang sendiri tanpa diundang. Proses first aid pun dibantu dengan teknologi. Diagnosa [atau diagnosis?] dilakukan di tempat kejadian.
Begitu menakjubkan!
Belum musnah akan ketakjuban masa depan dari tiga sudut pandang –tubuh, kota, dan dunia– versi Discovery Channel, saya terburu-buru kembali ke realitas di depan mata dengan sebuah pertanyaan: Akankah saya –kalau saja masih hidup– juga bisa menikmati teknologi semacam itu?
Oh, Indonesia…. Rupa Indonesia tentu tidak terwujud dalam tayangan itu. Prediksi akan teknologi masih dipegang oleh negara-negara maju: Amerika, Jepang, dan China.
Kalau saja 2057 menampakkan Indonesia, mungkin yang masih ada adalah kendaraan transportasi bus yang kondisinya mengenaskan –karena dipakai bertahun-tahun tanpa memperhatikan perbaikan– dengan ongkos naik yang berpuluh-puluh kali lipat… Hahaha… Saya hanya bisa tertawa getir memprediksi masa depan transportasi di negeri ini.
One Comment
Mas, Indonesia bakal lebih canggih..
Coba aja liat di jakarta, supir-supir metromini itu bisa ngendaliin kendaraan sebesar itu dengan kecepatan tinggi dan akurasi “collision avoidance” hingga centimeter.. (atau malah milimeter :p) terhadap kendaraan di sekelilingnya.
Itu baru supir metromini.. -doang- tanpa bluechip yg aneh-aneh.. gimana jadinya klo ditambahin chip yg macem-macem itu ??
Itu belum lulusan universitasnya..klo para pakar2nya gimana coba .. he he he
Post a Comment