« | Home | »

Sepotong Pagi dan Peduli

Hari masih terlalu pagi untuk peduli. Sesosok tubuh tua terseok-seok menyusuri jalanan Surabaya. Entah kemana tujuannya, tidak ada yang tahu. Di pundaknya terlihat kain lusuh hitam yang entah berisi apa. Pengemiskah ia? Ataukah hanya orang yang kurang waras yang tidak memiliki tempat berteduh?

Hati lain berkata: ini merupakan pemandangan yang biasa –sehingga melenyapkan kepedulian bagi siapa saja.

Sementara di sudut jalan, pasukan kuning sedang sibuk membersihkan jalanan. Kerlip lampu jalanan menerangi dedaunan yang kercecer di antara sampah. Sungguh perbuatan mulia, pikir saya, sepagi ini sudah bekerja memunguti sampah para pengendara. Dalam hati kecil saya bertanya: untuk apakah ia bekerja? Untuk sebuah kebersihan yang bernilai iman ataukah segepok uang sebagai gaji?

Tentu jawabnya ada di sana, di hatinya.

Sedetik kemudian, dari arah selatan, raungan motor melaju kencang di tengah sepinya jalanan pagi. Wusss… Berlalu begitu saja membelah udara. Pengendara itu seolah tidak peduli ada orang yang waswas akan lajunya. Mengapa ia begitu tergesa?

Tentu jawabnya ada di sana.

Sesampai di seberang jalan, bunyi alarm terdengar meraung di awal pagi. Kereta akan lewat, tandanya. Sebuah palang perlahan turun menghadang langkah saya. Jalanan kecil itu masih sepi, tidak ada satu pun yang terhalang kecuali saya. Sementara di kepala saya masih dipenuhi tayangan yang baru saja saya tonton di televisi: seorang pemuda dipukuli. Ia dikeroyok masa setelah mengucapkan syahadat yang beda.

Mengapa sekelompok masa itu menjadi begitu peduli? —sedang seharusnya ada banyak yang memerlukan kepedulian di sekeliling mereka.

Tentu jawaban ada di hati mereka. Konon, agamanya telah dinodai. Bukankah orang tersesat itu harusnya diberitahu jalannya –bukan malah dimarahi? tanyanya heran.

Kereta berjalan pelan… Tidak peduli akan sepotong pagi dan seorang bocah yang bertanya.


About this entry