Skip to content

Menyambut Ajakan Padi

Akhirnya, saya mempunyai album Padi terbaru, Tak Hanya Diam. Sore tadi, personel Padi datang bersilaturahim ke ‘markas’ saya, memperkenalkan album terbaru itu. Piyu, Fadli, Rindra, Yoyo, dan Ari datang pukul 18.00, usai maghrib.

Sambutan tak begitu meriah, hanya berisi tepuk tangan khas rekan-rekan ketika ada tamu. Saya sendiri, meskipun ingin berfoto bersama, menahan diri untuk tidak mendekat. Beberapa wartawan mengerumuni, berbincang-bincang. Ada yang sekadar bersalaman dengan Piyu. Rupanya, banyak yang ngefans dengan si gondrong itu.

Ojo ndeso!” kata teman saya melihat saya celingak-celinguk, ingin mendekat. Kata dia, yang membedakan orang kota dengan wong ndeso adalah ketika bertemu artis. “Gawokan (terheran-heran),” katanya, “padahal artis itu sama saja seperti kita.” Dan saya, karena terpengaruh olehnya, tidak ingin jadi wong ndeso di hadapannya.

Meskipun tidak bisa berfoto bersama, saya dapat menikmati lagu-lagu di album bersampul merah bergambar seperti DNA itu. Kata Piyu, sampul itu bermakna bahwa kita semua berhubungan, terkoneksi.

Bagaimanakah kualitas Padi di album ini?

Terus terang, saya bukanlah perasa yang baik, sehingga tidak dapat berkata banyak. Apalagi standar telinga dan selera musik orang itu lain-lain. Namun saya mempunyai pengalaman: pertama kali mendengar lagu Padi terasa aneh. Baru, setelah mendengarkan beberapa kali bisa merasakan keindahan melodinya.

Dengan meminjam headphone milik teman yang mahal, memang saya rasakan beda sekali dibanding dengan mendengarkan radio ketika perkenalan, seminggu lalu. Semua alunan musik lebih terasa, mulai dari suara latar hingga bas. Sangat enak didengar. Apalagi lirik-lirik lagu kemudian terasa melekat. Saya suka dengan realitas sosial.

Di banding dengan album self-titled yang cenderung bernada cinta, album ke lima ini memang lebih ke realitas kehidupan sosial. Seperti Harmony, Piyu dkk ingin menyampaikan kepada dunia bahwa kehidupan itu seperti harmoni yang tidak “bimsalabim”. Rencana Besar bermakna lebih dalam: Bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Dalam lirik Terluka, Padi secara gamblang menyebut lumpur kehidupan dan ajakan positif memaknai kehidupan. Mungkin lagu inilah yang dimaksud Piyu –dalam berita bocoran– merupakan lagu persembahan untuk para korban lumpur Sidoarjo.

Sebagaimana kebiasaan Padi yang selalu membuat judul lagu sesuai dengan nama album sebelumnya, di album baru ini, Harmony adalah jawabannya. Di self-titled, cover bertuliskan Padi dengan warna-warni, ternyata bermakna penuh warna. Yang berbeda, justru nama album ke lima ini kembali ke judul lagu sebelumnya, Tak Hanya Diam.

Dari sepuluh lagu yang dihadirkan, secara garis besar, lebih easy listening. Liriknya mudah. Permainan musiknya juga biasa. Tidak ada eksperimen ekstrim dalam permainan musik. Umumnya, permainan alat sudah pernah dilakukan. Hanya kali ini, permainan gitar lebih banyak.

Yang kurang, menurut saya, hanyalah pengemasan album yang kurang apik. Pelipatan yang kurang tepat pada kertas sampul tidak begitu enak dinikmati. Juga, perubahan logo yang menurut saya ‘misterius’ –apapun alasannya. Saya lebih suka dengan tulisan sebelumnya yang lebih mirip padi yang merunduk.

Apapun… Padi kali ini telah menyumbangkan lirik-lirik yang indah, mempertahankan kualitas, dan memahami realitas kehidupan yang begitu berat: Ada saatnya untuk berhenti sejenak, meresapi apa yang sudah sudah didapat, kemudian menghibur diri.

Dan saya, menyambutnya dengan menikmati lagu-lagunya.

Catatan kecil: Rupanya, lirik yang saya tulis sebelumnya (Sang Penghibur), menjadi bahan copy-paste para penyedia situs lirik, juga blog lain. Padahal, ada sebagian yang salah –dan akhirnya saya update.

3 Comments

  1. budiw wrote:

    mau dong oom imponk…

    –budiw

    Wednesday, November 21, 2007 at 4:30 pm | Permalink
  2. fierman wrote:

    bravo padiii…. favorit gw buanget… huauaha… tapi belon beli CDnya nih … :( minggu depan cari ah…

    salam kenal yak om imponk… btw kok kenal padi yak? :D mau dunk… di kenalin juga…

    Monday, December 31, 2007 at 11:10 am | Permalink
  3. mikes wrote:

    hihihi..sobat padi juga toh????

    Tuesday, March 17, 2009 at 1:42 pm | Permalink

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*