Internet memang memberikan keleluasaan bagi penggunanya. Selain sumber pengetahuan, media ini juga bisa untuk mencari hiburan. Tidak itu saja, bahkan kita bisa mencari apa saja yang kita inginkan (!), tergantung seberapa jeli dan kuat kita memilih hasil. Setiap kali ada masalah dengan komputer misalnya, saya cukup mengandalkan google untuk memecahkannya.
Beberapa waktu lalu, ketika saya kebingungan menyeting handphone CDMA agar terhubung internet, saya mencari panduan di sana. Tinggal saya ketikkan seri handphone dan kata internet saja di google, beberapa panduan berderet-deret di sana. Pengetahuan basic-nya hanya “seri ini bisa digunakan untuk internetan”.
Tidak hanya ketika dapat masalah, pengetahuan-pengetahuan baru juga banyak kita dapatkan dengan mencari hal-hal baru tergantung minat kita.
Pernah suatu kali, ketika kuis Who Want to be Millionaire masih populer [sekarang sudah nggak ada?], beberapa pertanyaan Tantowi Yahya bisa dengan mudah saya cari via google. Menakjubkan!
Kadang timbul pikiran, bagaimana kalau pemain curang dengan bantuan orang lain via alat tersembunyi? Pilihan ganda, menurut saya, masih bisa dikomunikasikan dengan mudah.
Memang begitulah internet –yang sebenarnya merupakan komputer yang saling berhubungan. Dengan memposting blog seperti ini misalnya, juga merupakan kontribusi kepada yang lain. Meski berbentuk tulisan kurang mutu, postingan bisa menjadi bacaan ringan menemani “orang-orang yang kurang kerjaan” di kantor.
Karena sifatnya “memberikan keleluasaan bagi penggunanya”, maka tak jarang ada yang menggunakan fasilitas ini untuk bersenang-senang, men-download mp3 dan file movies misalnya. Tentu saja, file-file besar seperti ini akan mengurangi jatah bandwith dan memperlambat kerja. Parahnya, orang-orang yang sudah mengetahui “enaknya”, menggunakan fasilitas dengan semaunya. Maka tak jarang, di kantoran [seperti saya juga], penggunaan internet dibatasi untuk hal-hal yang “legal”: beberapa situs diblokir, hingga tidak bisa mengakses sesuatu yang berbau “mp3″.
Sejak kehadirannya yang makin memasyarakat, beberapa orang tua juga sudah “resah lebih dulu” dengan penyalahgunaan internet oleh anak-anak mereka. Maklum, sebagai “media bebas”, internet memungkinkan untuk membuka situs-situs p*rno. Konotasi negatif terhadap internet di masyarakat lebih populer, sebelum hadir iklan Telkom yang berusaha “memasukkan internet ke pelosok desa”.
Internet kemudian seperti sebuah belati bermata dua, bisa digunakan untuk membunuh. Tetapi bisa juga digunakan untuk mengiris sayuran.
——-
Tulisan ini terinspirasi oleh keluhan salah satu teman yang komputernya tidak ada akses internet. Keluhan itu ditanggapi positif oleh si bos. “Nanti akan aku sampaikan pada orang IT untuk menyalakan. Internet itu penting lho! Bisa untuk menambah wawasan,” jawab si bos.
Saya gembira mendengarnya.
2 Comments
Setuju sama si Bos! Internet memang penting, makanya harus murah, malah kalau bisa gratis :D
hehe, ada cerita: waktu itu mbak any (reporter jp) perlu beberapa foto dari aku. aku bilang silakan ambil di multiplyku, dia bilang nggak bisa, diblokir kantor :p akhire aku kirim foto2 yg diperlukan satu per satu via imel :D
Post a Comment