Ayat-Ayat Cinta (AAC) insya Allah akan diputar di bioskop tiga hari lagi (28/2). Namun, belum genap dilempar ke pasar –sudah dipertontonkan kepada wartawan–, ada kontroversi yang menyeruak perihal kemunculannya dalam bentuk film. Mereka yang umumnya berpegang pada “ajaran” novel tersebut berpendapat, film itu justru bisa bertentangan dengan ajaran AAC yang islami. Sementara yang lain, justru tidak sabar menunggu penayangan perdana secara serentak di tanah air.
Apa yang menyebabkan sebagian mereka khawatir dengan film tersebut? Yakni tentang isi yang semestinya Islami bisa muncul dengan wajah lain. Yang menjadi pemeran adalah Fedi Nuril yang memang belum begitu terkenal. Di sini dia dipadukan dengan Rianti Cartwright yang merupakan “orang lain”. Bagaimana mereka bisa memerankan sebagai suami istri? Disinilah kekhawatiran bermunculan. Apalagi dalam novelnya, bagaimana sang tokoh (Fahri) bersama sang istri (Aisha) menjalin sebuah kisah rumah tangga yang begitu tergambar sempurna. Mungkin tidak menjadi masalah apa yang tergambar dalam novel tersebut. Tetapi, dunia akting hanyalah sebuah sandiwara.
Bagaimana kalau sang tokoh merupakan suami istri di dunia nyata? Mungkin kisahnya akan lain.
Saya jadi teringat dengan sebuah film produk Tiongkok yang mengisahkan balada rumah tangga “lain dunia”. Untuk menjaga “nilai-nilai ketimuran”, mereka justru memasang tokoh yang sama-sama wanita. Sang suami, diperankan oleh wanita juga yang macak sebagai seorang pria. Meskipun tokoh sangat mudah dikenali dari jenisnya, namun tidak mengurangi nilai yang dihadirkan dalam sebuah drama. Kalau orang Tiongkok saja tidak berani “menerobos nilai-nilai”, bagaimana dengan AAC yang mengusung nilai Islami?
Dunia film memang bukanlah nyata. Ia hanya sebuah sandiwara sesaat yang bisa jadi sangat jauh dari realitas kehidupan sang pemeran. Meskipun mereka mengakui ada beban berat ketika harus memerankan “sosok sempurna”, mereka tidak merasa khawatir akan nilai-nilai yang sebenarnya mereka bawa.
Novel AAC memang begitu mengagumkan! Tapi itu belum tentu cocok ketika difilmkan. Mestinya harus ada “kriteria” yang dipasang ketika film ini belum diproduksi. Dan tentu, di sini Kang Abik juga turut serta menyeleksi siapa saja tokoh-tokohnya.
Saya teringat beberapa tahun lalu ketika berkunjung ke rumah Kang Abik. Sang istri, Mbak Muya, begitu antusias untuk menghadirkan novel buatan suaminya untuk difilmkan. Tidak ada yang salah memang dengan niatan bagus itu. Tetapi rupanya ada pasar yang berkehendak lain.
Adakah film AAC sukses di pasaran? Saya kira sudah pasti. Terlebih yang menunggu-nunggu kehadiran film ini terlihat banyak. Teman saya yang tidak pernah menonton bioskop saja terpancing untuk bergerak. “Ayo nonton!” ajaknya.
+ Bersama Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta
Update: Ternyata penayangannya dimajukan dengan alasan pembajakan.
8 Comments
Aslkm. mas admin-nya,
Ya..begitulah….nilail2 Islami di film AAC hilang sama sekali. malahan ada adegan yg tidak ada di novel tapi diadakan disana, sy mohon kalo bisa Kang Abik hrs protes. karna inikan film AAC berbahaya, jadi justifikasi bahwasanya “BEGINILAH CARA ISLAM BERPACARAN” na’uzubillah, bagi penulis postingannya ini, tolong dong kasih tau ama kang Abik.
Aslkm..oiya salam kenal mas Imponk / Ali, dari sy.
thanks atas opininya
Mas sy link ya mas ?(minta ijin)
Setuju boss.. Pesan yang disampaikan di novel jelas dilanggar oleh pembuatan film itu sendiri.
Pesan saya untuk Kang Abik: Please, besok2 berpikirlah seribu kali sebelum menerima tawaran para oportunis bisnis entertainment itu untuk mengotori pesan suci Anda.
Syang filmnya, yang lebih menonjo kisah percintaanya. tapi tidak apa msh ada nilai-nilai yang baik. kita mesti sadar bahwa masyarakat membutuhkan pendidikan yang selayaknya. Spirit yooo…by succes, semga kita selalu bisa membut gebrakan-gebarakan baru di dunia per-filman Indonesia.
ya saya rasa film itu cukup untuk menggugah perasaan generasi muda untuk mempertmbangkan ara berpacaran secara islami, walaupun kita semua tahu dan mungkin seperti judul yang diposting diatas, kita lihat kesuksesan film aadc yang telah menyihir anak muda untuk gemar berpuisi dan mencari2 novel chairil anwar tulisan sumanjaya saya berharap film ini juga membuat penontonnya untuk mempertimbangkan berpenampilan islami seperti saat fachri mengenakan gamis, ya berharap gaya islami itu bisa menjadi trend seperti anak muda yang meniru giring mengenakan kufiya,
ok3 bozz??=)
Assalamualaikum..
wah AAC ko jadi “GITU” sih???
Lari kemana tu Syar’inya????????
masa ada adegan ‘ANU-nya?
sungguh penonton KECEWA!!!
salam…
seperti yang sudah disampaikan oleh mas imponk diatas, saya memang sedikit kecewa dengan versi filmnya…karena sekitar 50% lebih, konten film beda dengan versi novelnya. tapi saya pikir ini adalah satu langkah awal yang baik menuju proses menjual kebaikan yang lebih dalam. dan ada satu hal yang saya ingat tentang proses memasarkan kebaikan; bahwa kebaikan yang kita promosikan secara frontal, bisa jadi malah membuat calon konsumen kabur dan apriori. atau kalaupun membeli bisa jadi hanya sementara, untuk kemudian kembali lagi ke produk yang sebelumnya mereka pakai. tapi jika kita sabar terhadap proses…insya 4JJI hasilnya akan lebih matang…bahkan bisa jadi bukan hanya membeli tapi ikut memasarkan. untuk saudaraku para marketing, penikmat, dan simpatisan kebaikan, serta kritikus keburukan yang selalu saling mengingatkan…keep on the track, your on the right way to get 4JJI love…salam
One Trackback/Pingback
[...] AAC, antara pasar dan nilai [...]
Post a Comment