Skip to content

Sebuah Review yang Telat: AAC, Beda Fokus

Akhirnya… saya bisa nonton!

Ada sebuah dilema ketika novel diangkat ke layar lebar, tulis Reiny Dwinanda di Republika dua minggu lalu, membahas tentang film Ayat-Ayat Cinta (AAC). Media novel yang “lebar” itu harus dituangkan ke pita seluloid [eh, sekarang sudah zaman digital?] berdurasi 120 menit saja!

Tentu, amat sangat tidak mungkin semua dapat tertampung. Makanya, sang sutradara (Hanung Bramantyo) serta penulis skenario (Salman Aristo dan Ginatri S. Noer) menyiasati dengan mengambil bagian-bagian penting tanpa menghapus unsur penting dari novel.

Bukankah tidak ada tuntutan sebuah film adaptasi harus seratus persen sesuai dengan novel?

Maka dalam film, ketika menyaksikan AAC, kita bisa temukan dialog yang tidak ada dalam novel. Yakni ketika Fahri dan Aisha berada di tepian sungai Nil. Entah bagaimana keduanya bisa dipertemukan, kedua insan lain jenis itu berdialog tentang jodoh.

“Kau percaya jodoh, Fahri?” tanya Maria.
“Ya, setiap orang memiliki…” jawab Fahri.
“Jodohnya masing-masing,” sahut Maria, “seperti yang sering kamu katakan.”
“Aku rasa, sungai Nil dan Mesir, itu jodoh.”

Penambahan adegan merupakan pengayaan dari novel. Bagi penikmat novel, mereka tidak melulu disodorkan apa yang tertulis dalam novel. Tapi ada semacam nilai tambah yang bisa dinikmati. “Kalo pengen liat AAC [secara imajinatif], baca aja novelnya. Gak usah nonton!” Seakan sang sutradara meneriakkan dengan lantang.

Dan memang, ada hal beda –dan bahkan harus beda. Media film yang hadir belakangan harusnya bisa semakin kaya dan berbobot. Akhirnya, ketika bahasa novel diterjemahkan kedalam “bahasa” film, semua bisa berubah. Imajinasi yang terbangun saat membaca novel sekarang sudah tidak bisa lagi. Semua sosok terlihat jelas. Lengkap dengan latar belakang yang terkenali.

Mungkin bagi yang sudah pernah melihat kampus Al Azhar, sungai Nil, dan suasana panas Mesir akan protes. Dalam film AAC, penggambaran saya rasakan kurang begitu “greng” [terlalu kental Indonesia?]. Namun, apa yang dihadirkan sudah bisa “mewakili” imajinasi pembaca novel seperti saya yang belum pernah menginjakkan kaki di negeri Fir’aun itu.

Ketika film menggambarkan realitas yang tidak sesuai dengan imajinasi penikmat novel, mereka sebagian mereka akan protes. “Kok begitu ya ceritanya?”, “Kok di Al Azhar mahasiswanya Indonesia semua?”, “Sungai nil kok mirip sungai di pinggir rumah saya?”, “Kok karekter Tuan Boutros dan Yousef tidak ada?” dan bla-bla-bla.

Saya sendiri juga merasakan hal serupa.

Tokoh Fahri bin Abdullah Shiddiq yang begitu “sempurna” dalam novel, ternyata memiliki sifat tempramental dan mengalami kebimbangan hidup. Sifat tempramental itu tampak ketika menjalin rumah tangga dengan Aisha, seorang istri kaya raya yang mencoba “mengatur” hidupnya. Ketika Aisha membelikan laptop baru, Fahri sertamerta marah dan membentak tidak ingin mengganti komputer bututnya –yang diperoleh dari hasil keringat. Sifat ramah Fahri yang tergambar dalam novel seolah berganti rupa dengan orang lain yang merasuk ke dalam jiwanya. Bahkan sejak awal pernikahan kedua insan lain negara itu, Fahri terlihat begitu muram tanpa sebab.

Inikah sebagai “penyempurnaan” tokoh Fahri yang terlihat begitu sempurna dalam novel? Entahlah…

Tetapi ada lagi yang saya rasakan kurang sesuai dengan isi novel [dan bahkan bertolak belakang!] Yakni bernada “sindiran” nikah ala Fahri yang mengandalkan ta’aruf. Proses ini dalam film terlihat amat “rapuh” karena kedua mempelai tidak dapat mengenal lebih jauh. Lihat saja adegan ketika Fahri dijebloskan ke penjara, Aisha mencoba menguak siapa Fahri sebenarnya dengan mengobrak-abrik kitab-kitab [padahal dalam pandangan kaum santri, kitab adalah sesuatu yang dimuliakan]. Fahri seperti sosok yang tidak dia kenal. Yang ia temukan hanyalah sebingkai foto dan kabar bahwa dia berasal dari Jawa, anak penjual tape.

Ada juga teman Fahri sepenjara yang terlihat kumuh tetapi bisa memberi nasihat dalam, kontas dengan apa yang tergambar dari penampilannya. Sementara Fahri shalat, pria ini terlihat terleha-leha saja menertawakan kegagalan mahasiswa Al Azhar yang yang di-DO itu melanjutkan shalatnya. [eh, ini bukan khotbah seperti yang disindir sutradara?]

Terlebih [ugh, kenapa ini begitu penting!] adegan perkosaan Noura diperlihatkan secara film, bukan cukup penuturan Noura memberi pengakuan. Sementara poligami yang ditempuh Fahri dalam film seolah menjadi begitu menonjol, tanpa penjelasan hukum syar’i yang memadai.

Memang, banyak adegan mengecewakan jika dibandingkan dengan novel. Tetapi saya dapat memaklumi memang itulah –yang dinamakan– dilema sebuah film. Sudah pendek, harus ada tuntutan bagus pula!

Teman saya yang menyaksikan lebih awal dari pada saya pun berkata hampir serupa. “Fahri begitu dicintai banyak orang tanpa sebab,” katanya mengkritik dengan nada sewot. Harusnya MD Pictures juga jeli para penontonnya karena tidak semua membaca novelnya.

Saya sendiri cukup memberi rating bagus tanpa rekomendasi. Memang, menurut saya, berbeda fokus antara novel dengan film. Kesimpulan saya: dalam novel fokusnya adalah Fahri yang berpegang prinsip-prinsip islami, sementara dalam film adalah jalinan cinta yang berlatarbelakang kehidupan islami. Sehingga amat dalam ketika kita [saya dan mungkin Anda] diberi kesimpulan di akhir film: bahwa cinta itu tidak sama dengan rasa ingin memiliki –seperti kesimpulan Maria.

Meski penonton berjejal-jejal, saya kira tidak banyak yang jeli menangkap pesan moral [islami?!] yang terangkum dalam novel AAC. Terlebih, dulu, kabarnya film ini akan hadir tepat pada perayaan Valentine untuk “merayakan” cinta! [tapi kemudian mundur karena --dari kabarnya, lho-- kedahuluan "Love".] Ah, agama dan cinta seolah lebur untuk [maaf] “dijual” bersama.

Baiknya, yang belum pernah membaca novelnya menjadi penasaran untuk membandingkan. Apa iya cinta dalam islam begitu? Kemudian, –entah– mereka juga akan menemukannya dalam novel seperti apa sejatinya cinta yang dibingkai oleh agama itu…

Bonus:

6 Comments

  1. lantip wrote:

    setiap karya tulis diangkat ke layar lebar, kalau aku sudah baca karya tulisnya, pasti malas nonton.
    dari harry potter sampe aac ini, entah mengapa. mungkin saya termasuk orang yang tidak mau imajinasi saya didikte oleh visualisasi bikinan orang :D

    Saturday, March 15, 2008 at 11:23 am | Permalink
  2. Novri wrote:

    Novel dibaca, tentunya harus rinci dan detail sehingga memunculkan deskripsi berbeda pada setiap pembacanya. Film media visual tidak mungkin waktu 2 jam bisa menghadirkan gambaran secara detail. Yang penting keseluruhan film bisa menjadi alur cerita seperti dalam novel.
    Tapi secara keseluruhan film ini yang bikin bagus ilustrasi musik yang bikin terharu.
    Salam kenal ya mas,,,bagus tulisannya.

    Saturday, March 15, 2008 at 6:40 pm | Permalink
  3. Welly wrote:

    Y…y…sy sngt stuju, persepsi si sutradara dg penulis sangat berbeda….Apalagi klo latar belakang keilmuan ikut diperhitungkan…
    Bagaimanapun, selamat nwt mas hanung yg “sedikit” berhasil mengangkat tema islam dalam sebuah film -wlo sbnrnya sy lebih suka melihat fil islami buatan deddy mizwar yg lebih natural namun tetap islami….Lho kok jd bahas deddy mizwar y…:p
    Btw, salam kenal….

    Saturday, March 15, 2008 at 8:23 pm | Permalink
  4. galih wrote:

    Hanung sendiri memang mengakui bahwa fokus film AAC di cinta. Ia ingin menunjukkan bahwa Islam itu bukan teroris, tetapi menjunjung tinggi nilai-nilai cinta.

    Saturday, March 15, 2008 at 9:02 pm | Permalink
  5. FIKRI wrote:

    Aku setuju mas. barusan aku juga diskusikan soal AAC dg teman sekantor. diantaranya telah mas sebutkan di atas. banyak hal yang kontradiktif dengan syar’i. Aku tambahkan, ucapan salam “assalamu’alaikum” dan jawaban antara sesama muslim dengan yang non-muslim. Bukankah kita tak boleh salam kepada mereka? dan kalau mereka salam kepada kita, maka jawab dengan “wa’alaikum”.
    Minum dengan tangan kiri.
    Tak jelasnya tentang batasan kapan masuk islamnya tokoh “Maria”. cukup dengan ingin shalat bukan berarti telah masuk islam khan?
    Setelah saya tahu tokoh yang memerankan Aisha di film AAC, saya kok jadi “capa deh” …. peranan mulia diperankan oleh yang ga mulia. hehe… coba kalau ybs shaleh spt aisha ya? (ngiler)

    Saturday, March 15, 2008 at 9:18 pm | Permalink
  6. dadan wrote:

    ada keterbatasan untuk sebuah kompromi
    dan
    ada kompromi untuk sebuah keterbatasan
    sejauh mana itu bisa dilakukan ?
    dan
    seberapa banyak pihak yang bisa dipuaskan ?

    IMHO, emangnya ada produk komunikasi masa yang memuaskan semua pihak ?

    :D tapi emang Hanung layak mendapat kritik membangun dan penghargaan.
    Walau saya secara pribadi, ingin melihat film AAC seperti saya melihat AAC versi novel dalam diri saya.

    PS : bos, kayaknya ada bug di theme ente.
    Misal saya klik posting X terus klik untuk pindah ke posting Y, maka url yang terbentuk :
    http://www.imponk.web.id/2008/02/25/aac-antara-pasar-dan-nilai/www.imponk.web.id/2007/01/15/bersama-penulis-novel-ayat-ayat-cinta/

    Sunday, March 16, 2008 at 1:58 am | Permalink

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*