Skip to content

Pesta Demokrasi

Kalau tidak ada aral melintang, hari ini di tempat kelahiran saya akan terjadi peristiwa bersejarah bagi kemajuan desa. Banyak yang bilang pesta demokrasi. Tepatnya pemilihan kepala desa.

Entah mengapa setiap pemilihan kepala desa selalu disebut dengan pesta demokrasi? Saya tidak tahu persis. Mungkin sebagian orang kecil yang mencoblos bisa merayakan pesta di tempat para calon kades. Diberi jamuan makan dan minum sepuasnya. Entahlah… Sehingga rakyat seperti “diorangkan”.

Ada dua calon yang menjagokan diri kali ini. Pertama adalah lurah yang menjabat sekarang. Lawannya adalah dari orang biasa yang dulu pernah mencalonkan diri tetapi tidak jadi. Keduanya sama-sama kuat. Isu yang berkembang, rakyat menginginkan perubahan. Ini artinya calon kepala desa baru adalah yang belum menjabat.

Namun, opini masyarakat harus dibuktikan dengan penghitungan suara. Ini akan diketahui setelah pencoblosan, minimal malam setelah hari pencoblosan. Keduanya beradu simpati dari masyarakat.

Yang tidak saya suka, ternyata politik uang sudah merambah dalam ranah tidak jelas. Meskipun tidak disertai dengan ajakan untuk mencalonkan salah satu, ada juga yang menyelipkan amplop berisi sejumlah uang ketika calon mengadakan acara sosialisasi. Parahnya, hal seperti itu sudah mendapat “restu” dari para tokoh agama. “Uangnya diterima saja, namun urusan coblos-mencoblos itu urusan pribadi,” ujar mereka seolah berkelit.

Memang, kondisi masyarakat sekarang serba repot jika tidak menerima pemberian dari para calon itu. Seperti ibu saya sendiri bilang, “Kita kan dikasih. Ya diterima.” Dengan beranggapan bahwa uang itu adalah uang “aman”, meski dalam kenyataan, para calon dengan terang-terangan menginginkan dukungan.

Saya sendiri sudah menyatakan diri untuk tidak mencoblos, meskipun resikonya tidak dapat uang. Memang repot pesta demokrasi sekarang. Ada sebuah sistem –kalo mungkin bisa disebut– yang tidak bisa ditolak ketika “suap-menyuap” terselubung dalam pemilihan kepala desa. Padahal, sebagian dari mereka tahu bahwa yang menyuap maupun disuap keduanya sama-sama “tidak selamat”.

Ah… Saya tidak tahu, apakah begini yang namanya hidup di zaman akhir yang serba sulit? Kondisi ini menjadi lumrah karena dimana-mana sudah menjadi sistem.

Dan, akhirnya, darimanakah kemajuan desa bisa diperoleh, jika kepala desa yang akan terpilih sebelumnya telah mengorbankan banyak uang untuk menyukseskan diri? Sebuah keluarga saya ada yang mencalonkan diri di lain desa. Dia kalah. Konon, uang sebanyak Rp 70 juta telah “melayang”… Apakah dia juga mengikhlasakan itu semua? Entahlah…

Ini adalah bagian cerita pesta demokrasi di desa saya. Semoga di sana tidak.

One Comment

  1. Almas wrote:

    Ya begitu mas Imponk dimana – mana ya begitu??? sedih tapi ini realita, Wis Mbuh lah

    Monday, December 1, 2008 at 1:12 pm | Permalink

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*