Skip to content

Stiker Tarif

tarif Ketika melihat angka di pinggir pintu beberapa waktu lalu di pinggir jalan, hati saya sedikit gembira. Rupanya, dinas perhubungan kota Surabaya sudah semakin berani menertibkan tarif kendaraan umum semacam bus. Buktinya, stiker tarif begitu menyolok mata dipasang di pinggir pintu masuk bagian depan. Tidak hanya selebaran tarif yang tidak memiliki ‘kekuatan’ apa-apa seperti dulu pernah dikeluarkan. Di pinggir pintu bus itu, sekarang tertulis "Jauh dekat Rp 2.800".

Tentu tarif yang dipasang Dishub lebih terjangkau untuk orang-orang yang "mobile". Sedangkan untuk anak sekolah, tarifnya lebih murah lagi –cuma separo, bahkan kurang.

"Wah, yang benar saja?" saya seperti tidak percaya dengan tarif "normal" itu. Padahal, tarif bus umum sebelumnya dipatok di atas Rp 3.000. Paling tidak bisa sampai Rp 4.000 untuk jauh dekat. Sangat jauh dari tarif yang ditetapkan dishub.

Alasan para kondektur itu terdengar klise: tarif bahan bakar sedang naik. Biaya kenaikan bahan bakar dikenakan kepada penumpang. Dan tentu, penumpang tidak bisa berbuat apa-apa.

Tapi apa yang terjadi?

Rupanya, praktik tidak semudah yang diterapkan. Rupanya, para kondiktur bus itu tidak ada yang mengindahkan "pematokan tarif" oleh dishub, meski sudah terpampang jelas. Beberapa waktu lalu, ketika menempuh perjalanan Tambak Osowilangun-Bungurasih, kondiktur bahkan menarik lebih mahal: Rp 5.000! Itu pun kemudian dikembalikan Rp 1.000 setelah saya "ngeyel ".

Sebagai penumpang "setia", saya masih tidak bisa dibohongi. Andai saya "orang baru", tentu para kondiktur itu bisa leluasa mengambil keuntungan dari para penumpang.

Apakah ini juga termasuk bentuk korupsi dari para penyedia layanan angkutan? Ataukah hanya oknum kondiktur yang ingin memperoleh keuntungan plus dari pemilik kendaraan? Entahlah…

Anehnya, rata-rata para penumpang itu "pasrah" saja dengan uang yang diterapkan oleh pihak bus. Tidak ada yang "ngeyel" dengan stiker baru yang terpasang di pinggir pintu. Apakah mereka tidak melihatnya?

2 Comments

  1. Raffaell wrote:

    hmm, keadaan yang makin sulit, membuat orang sudah males untuk berdebat, udah jenuh kali ya….

    Monday, April 7, 2008 at 5:18 am | Permalink
  2. Koko wrote:

    Yah, susah sih berdebat ama orang gila…
    kalau udah begitu siapa yang lebih gila biasanya yang menang..

    Monday, April 7, 2008 at 8:50 pm | Permalink

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*