Ia hanyalah pengemis di taman ini. Sepatunya bolong. Pakaiannya compang-camping. Baunya? Mungkin juga menyengat –terus terang, saya tidak tahu. Dengan bekas kaleng susu yang digeletakkan begitu saja di sampingnya, dia berklesotan di pinggir jalan sambil meraih iba para pejalan kaki.
“Kasihanilah, saya buta.” Papan karton dengan coretan spidol sederhana, dia seakan memberi tahu orang lain yang berjalan. Tentu saja, berharap orang-orang mengasihaninya. Kemiskinan, kebutaan, atau nasib buruk lain bisa menjadi “jualan” untuk mengundang kasihan.
Di antara burung-burung berterbangan, orang-orang lalu lalang. Satu dua ada yang menghampiri, sekadar melemparkan uang recehan. Ada juga yang hanya melengos melihat tampangnya yang kusut. Ada lagi yang jatuh uang recehnya hanya gara-gara merogoh sesuatu di celana. Tentu saja, yang terakhir ini tidak sengaja untuk bersedekah –atau, akhirnya bersedekah karena uangnya terjatuh di sana dan menganggap itu rezeki bagi si pengemis?
Lalu, dari kejauhan seorang perlente berjalan dengan gagah melintas di depan si pengemis buta. Di antara kacamata hitam yang ia kenakan, dia melihat pengemis yang mengiba. Tiba-tiba tergerak hatinya untuk berhenti sejenak. Dia berdiri menghampiri.
Si pengemis pun mengerti bahwa ada seseorang yang menghampiri. Dia mencoba merengkuh sepatu orang yang di depannya itu, mengiba untuk sekadar sedekah kecil. Namun tidak satu uang pun yang keluar dari balik jas licin pemuda perlente itu. Dia meraih karton yang bertuliskan belas kasihan itu dan membaliknya. Di sana dia menulis sesuatu…
Kemudian pergi…
***
Ada yang aneh dirasakan si pengemis pasca pemuda itu menghampirinya. Banyak sekali para pejalan kaki yang mampir untuk sekadar mengisi kaleng di pinggirnya.
Klitik..
Klitik..
Bahkan, kaleng itu sampai penuh!
“Apakah dia malaikat –yang berdoa sehingga dia begitu memesona?” pikir si pengemis.
***
Sore harinya, pemuda itu datang lagi.
Si pengemis pun bertanya, “Apakah gerangan yang engkau lakukan sehingga begini?”
“Saya tidak melakukan apa-apa, cuma mengganti tulisan yang ada di karton,” jawab si pemuda seraya bergegas meninggalkan si pengemis yang masih dirundung rasa penasaran.
Bagaimanakah kata-kata yang ditulis pemuda itu?
Bagi yang tahu, silakan komen di bawah :D
————
- PS: Blog ini akan jarang update. Silakan kunjungi blog saya yang lain tentang kaligrafi.
9 Comments
waduh, tebak2an… opo yoh? sek tak mikir disek… :D
btw blog panduan kaligrafi kok ndak bisa diakses?
Maaf mas, servernya tadi lagi down. Lain kali bisa kunjung lagi ;)
apa ya..?
hari ini indah, tapi saya tidak bisa melihatnya.
:D
wah, mas fahmi hebat!
Menurut gue, sih itu
“Beri Receh, agar tidak seperti saya”
Ya kira2 gitulah, intinya itu, tapi kata2nya kurang bagus
anda tidak buta akan dunia ini…
bener kata mas fahmy..
si pria perlente itu nulis
“hari ini indah sekali, sayang saya tidak bisa melihatnya”.
aku pernah baca tentang ini.. kalo nggak salah waktu dosenku ngasih materi di kelas dasar jurnalistik kemarin..
tema materinya, kekuatan kata-kata… :D
kadang hal yang maksudnya sama, bisa jadi lebih menyentuh kalau disampaikan dengan kata-kata yang berbeda…
well, that’s how journalists work.. we play with words…
*main karate pakai lidah.. ciaatttt…!! ^_^
Post a Comment