« | Home | »

Tujuh Paragraf Berbeda

1

Pernah suatu kali ketika duduk-duduk santai di rumah tiba-tiba kejatuhan cicak? Secara refleks, kita kemudian berpikir tentang “nasib sial” yang bakal menerpa. Sebelum terbenam oleh “ramalan nasib”, akhirnya kita terlempar lagi ke alam sadar –tapi sedikit membuaikan– kalau itu hanyalah cicak ngantuk.

2

Pernah suatu kali ketika kita jatuh sakit, kita tiba-tiba teringat bahwa kita pernah menyumpahi orang agar celaka. Kronologinya bermula: kita tidak salah apa-apa di jalan, kemudian didamprat habis-habisan hanya karena kurang kencang laju motor kita? Karena tersulut emosi, harapan jeleklah yang keluar. “Mungkin sumpah kita tidak nyampai, akhirnya kembali lagi…” kita berangan.

3

Dalam keadaan perut kosong, warung-warung tutup [karena suasana masih Lebaran], tiba-tiba ada teman membawa makanan besar. Alangkah senangnya kita! Di tengah mengunyah makan, kita teringat uang receh tiga ratus rupiah yang kita berikan kepada pengemis di pinggir jalan, tadi siang.

4

Kita tergagap bangun dari tidur. Dalam memori seperti bermimpi –namun hanya samar-samar– kita seperti buron yang dikejar-kejar polisi. Di mana pun tempat bersembunyi, seolah tidak ada yang samar. Meski kita tidak tahu apa sebabnya. “Ah, harus segera periksa ke dokter.” Kita menyusun rencana.

5

Suatu hari, kita menemukan sebuah batu berwarna putih bersih di pekarangan. “Barangkali ini berkhasiat sama seperti batu-batu penghilang alergi,” gumam kita. Akhirnya, kita menjadikan batu itu sebagai hadiah kepada salah seorang istri teman yang alergi. Hasilnya? Memang mujarab. Istri teman kita tidak alergi lagi berkat batu ajaib tadi.

6

Ketika membolak-balik koran Minggu, kita mendapati ramalan bintang. Meski tidak percaya akan ramalan, kita masih membaca sesuai dengan zodiak kita. “Ah, hanya sebagai selingan,” kita berkelit. Padahal, kita senyum-senyum mendapati “kabar baik” yang tertulis di sana.

7

Kita baru saja pulang dari majelis taklim yang membahas tentang riba. Dari situ kita tahu bahwa kredit sepeda motor dengan dua harga termasuk dilarang oleh agama. Padahal, sepada motor untuk mengaji selama ini juga hasil kredit. “Kalo riba mestinya tidak boleh?” kita disatu sisi. “Tapi ini kan untuk sarana ibadah juga?” kita di satu sisi.


About this entry