1
Pernah suatu kali ketika duduk-duduk santai di rumah tiba-tiba kejatuhan cicak? Secara refleks, kita kemudian berpikir tentang “nasib sial” yang bakal menerpa. Sebelum terbenam oleh “ramalan nasib”, akhirnya kita terlempar lagi ke alam sadar –tapi sedikit membuaikan– kalau itu hanyalah cicak ngantuk.
2
Pernah suatu kali ketika kita jatuh sakit, kita tiba-tiba teringat bahwa kita pernah menyumpahi orang agar celaka. Kronologinya bermula: kita tidak salah apa-apa di jalan, kemudian didamprat habis-habisan hanya karena kurang kencang laju motor kita? Karena tersulut emosi, harapan jeleklah yang keluar. “Mungkin sumpah kita tidak nyampai, akhirnya kembali lagi…” kita berangan.
3
Dalam keadaan perut kosong, warung-warung tutup [karena suasana masih Lebaran], tiba-tiba ada teman membawa makanan besar. Alangkah senangnya kita! Di tengah mengunyah makan, kita teringat uang receh tiga ratus rupiah yang kita berikan kepada pengemis di pinggir jalan, tadi siang.
4
Kita tergagap bangun dari tidur. Dalam memori seperti bermimpi –namun hanya samar-samar– kita seperti buron yang dikejar-kejar polisi. Di mana pun tempat bersembunyi, seolah tidak ada yang samar. Meski kita tidak tahu apa sebabnya. “Ah, harus segera periksa ke dokter.” Kita menyusun rencana.
5
Suatu hari, kita menemukan sebuah batu berwarna putih bersih di pekarangan. “Barangkali ini berkhasiat sama seperti batu-batu penghilang alergi,” gumam kita. Akhirnya, kita menjadikan batu itu sebagai hadiah kepada salah seorang istri teman yang alergi. Hasilnya? Memang mujarab. Istri teman kita tidak alergi lagi berkat batu ajaib tadi.
6
Ketika membolak-balik koran Minggu, kita mendapati ramalan bintang. Meski tidak percaya akan ramalan, kita masih membaca sesuai dengan zodiak kita. “Ah, hanya sebagai selingan,” kita berkelit. Padahal, kita senyum-senyum mendapati “kabar baik” yang tertulis di sana.
7
Kita baru saja pulang dari majelis taklim yang membahas tentang riba. Dari situ kita tahu bahwa kredit sepeda motor dengan dua harga termasuk dilarang oleh agama. Padahal, sepada motor untuk mengaji selama ini juga hasil kredit. “Kalo riba mestinya tidak boleh?” kita disatu sisi. “Tapi ini kan untuk sarana ibadah juga?” kita di satu sisi.
6 Comments
wah, list kontradiksinya bisa nambah panjang mas :D
“Kalo riba mestinya tidak boleh?” kita disatu sisi. “Tapi ini kan untuk sarana ibadah juga?” kita di satu sisi.
Sepertinya akan lebih bagus bila paragraf di atas menjadi:
“Kalo riba mestinya tidak boleh?” kita disatu sisi. “Tapi ini kan untuk sarana ibadah juga?” kita di sisi lain.
Iya ngga sih? :-)
salam kenal dan numpang comment ah…
Paragraf 1…sepertinya kita sering kali menghilangkan rumor itu kalo kejatuhan cicak..tapi kenapa ya..tetap saja ada di fikiran…?
aku mau komen soal yang riba saja lah.
padahal agama itu kan awalnya tidak hitam putih. “institusi” agama lah yang membuat kotak kota itu. dan itu sering kali menyulitkan.
ustad bilang tidak boleh, tapi ngga ada alternatif. aneh bener…
Istri saya paling takut sama cicak. Jijik…. katanya.
Tapi entah bagaimana, selalu saja dia yang bertemu dengan cicak…
Ketika mau buka kulkas ada cicak yang terperangkap tak berdaya di dalamnya.
Ketika sedang asyik menonton tivi tiba tiba ada seekor cicak yang jatuh menimpanya. (mungkin ‘cicak ngantuk’ kali ya kang..)
Ketika mau menutup pintu kamar ada lagi cicak yang mati kering terjepit daun pintu.
Kenapa ya kang….
Padahal saya kalau bertemu cicak langsung … haaap…..
saya tangkap, dan akhirnya cicak malang tersebut menjadi santapan cat fish atau cat beneran (kucing kesayangan kami).
Kenapa coba….
kalau dikait-kaitkan nanti bisa jadi percaya kalau itu …….
Nah, saya bilang cuek aja….. cuma kebetulan saja…..
Kan sebagian kita masih sering mengait-ngaitkan sesuatu kejadian. Karma ! katanya.
Padahal… seperti akang bilang di atas …. mungkin cuma cicak ngantuk…. hehehe…….
Wassalam
aku lagy bikin karya tulis ilmiah tentang paragraf neyh,,,bagi bahannya…”,)
Post a Comment